Rabu, 28 Desember 2011

KARAKTER DAN TIPE KEPEMIMPINAN


1.       Kelebihan dan kelemahan karakter-karakter kepemimpinan
Telah kita ketahui terdapat 4 (empat) karakter kepemimpinan yaitu astha brata, panca brata, dasa dharma dan astha dasa kautamaning prabu. Berikut kelemahan dan kelibahannya msing-masing :
a.      Astha brata  yang terdiri dari
-        watak bumi : kuat dan berwibawa, keburukannya : kurang memiliki semangat tinggi
-        air : dapat menerima masukan dlm bentuk apapun, kekurangannya : kurang memiliki semangat yang berkobar-kobar.
-        api : memiliki semangat tinggi kekurangannya : cederung bersikap otoriter
-        angin : mampu menghindari rasa malas kekurangannya : terlalu bijaksana sehingga sering disalahgunakan
-        matahari : mampu memberikan semangat pada bawahannya kekurangannya : terlalu konsisten sehingga bila bawahan ada yang melanggar peraturan langsung akan diberi konsekuensi
-        bulan : mampu memberikan penerangan
-        bintang : menjadi sauri tauladan
-        mendung : memiliki kesan berwibawa kekurangannya : kurang memiliki semangat tinggi
b.     dasa dharma raja
Kelebihannya : memiliki ketulusan mengemban tugas, berani berkorban, sederhana, ramah tetapi kekurangannya : kurang memiliki semangat yang menggebu-gebu untuk menyelesaikan pekerjaannya
c.      Astha dhasa
Kelebihannya : sabar, loyalitasnya tinggi, pandai mnyusun strategi
kekurangannya : karena mendapat dukungan dari bawahan sehingga merasa melayang
2.       Di lingkungan militer tipe kepemimpinan otoriter perlu diterapkan.
Sebelum kita ketahui mengapa, kita pahami terlebih dahulu tentang kata otoriter. Setiap mendengar kata otoriter, kita pasti akan terbayang dengan seorang pimpinan yang mengharuskan segala kehendaknya terlaksana oleh bawahannya. Otoriter juga terkadang dinisbatkan kepada seseorang yang berjiwa ‘pemaksa’, sampai-sampai orang lain dibuatnya tidak memiliki pilihan lain kecuali pilihan yang ia sodorkan. Orang-orang seperti ini banyak disekitar kita. Kehidupan militer memang dekat dengan sistem otoriter, masyarakat sipil dan bisnis tidak terbiasa dengansistem ini. Anda bisa tahu mengapa? Dalam militer, otoriter dapat berhasil dengan baik karena para komandan mereka memberikan contoh yang sama persis dengan apa yang mereka perintahkan. Perintah itu pun hanya terbatas pada perintah yang bersifat umum, bukan pribadi. Kalaupun pribadi, para komandan mereka telah melakukannya terlebih dahulu. Dunia sipil dan bisnis tidak dibangun dengan cara bagaimana dunia militer dibangun. Sipil dan bisnis memiliki banyak sekali kemungkinan pemecahan yang kreatif. Jika memang ingin menerapkan konsep otoriter dalam dunia ini, sipil dan bisnis, Anda harus mampu memberikan contoh signifikan yang sama persis dengan apa yang Anda perintahkan. Militer memiliki apa yang tidak, atau belum, dimiliki oleh dunia sipil dan bisnis yaitu: kepemimpinan dan keteladanan. Anda dapat mencari contoh pemimpin otoriter dunia yang berhasil. Mereka pasti memiliki kapasitas minimal dua hal diatas. Lainnya akan
jatuh berantakan dalam waktu dekat. Dan memang, hampir di manapun di permukaan
bumi ini, sistem otoriter tak akan bertahan dalam waktu yang sangat lama.
Ada banyak dampak yang ditimbulkan oleh kepemimpinan yang otoriter. Dari kepemimpinan yang otoriter tidak lantas membuat suatu organisasi berjalan menjadi lebih baik sehingga seharusnya kepemimpinan dalam suatu organisasi tidak bersifat otoriter terutama dalam institusi pendidikan. Dalam suatu organisasi terutama dalam institusi pendidikan diharuskan pemimpin yang tegas dan disiplin dalam memberikan perintah. Hal ini ditujukan agar setiap anggota organisasi dapat bertanggung jawab penuh dengan tugas yang dijalaninya.
Jadi dalam dunia militer harus diterapkan kepemimpinan yang otoriter karena untuk meningkatkan kedisiplinan dan rasa tanggung jawab terhadap tugas yang diembannya.tetapi kepemimpinan yang seperti ini juga memiliki keburukan, yaitu :
a.       Tidak mendengarkan aspirasi anggota yang lain.
b.       Mau menang sendiri.
c.       Hanya mementingkan kepentingan kelompok saja.
3.       Dalam kepemimpinan demokratis, suara rakyat harus diikuti.
Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Begitulah pemahaman yang paling sederhana tentang demokrasi, yang diketahui oleh hampir semua orang.Berbicara mengenai demokrasi adalah memburaskan (memperbincangkan) tentang kekuasaan, atau lebih tepatnya pengelolaan kekuasaan secara beradab. Ia adalah sistem manajemen kekuasaan yang dilandasi oleh nilai-nilai dan etika serta peradaban yang menghargai martabat manusia. Pelaku utama demokrasi adalah kita semua, setiap orang yang selama ini selalu diatasnamakan namun tak pernah ikut menentukan.  Menjaga proses demokratisasi adalah memahami secara benar hak-hak yang kita miliki, menjaga hak-hak itu agar siapapun menghormatinya, melawan siapapun yang berusaha melanggar hak-hak itu. Demokrasi pada dasarnya adalah aturan orang (people rule), dan di dalam sistem politik yang demokratis warga mempunyai hak, kesempatan dan suara yang sama di dalam mengatur pemerintahan di dunia publik. Sedang demokrasi adalah keputusan berdasarkan suara terbanyak. Di Indonesia, pergerakan nasional juga mencita-citakan pembentukan negara demokrasi yang berwatak anti-feodalisme dan anti-imperialisme, dengan tujuan membentuk masyarakat sosialis.
Dari pemaparan diatas jelas bahwa suara rakyat harus diikuti, ini diangkat dari pengertian demokrasi itu sendiri bahwa demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Semuanya bertolak dari rakyat yang kemudian untuk rakyat itu sendiri. Contohnnya saja saat pemilihan presiden, ini menggunakan sistem demokrasi dimana presiden dipilih langsung oleh rakyat dan yang kemudian keputusan-keputusan yang dibuat Presiden tersebut berdampak dan dirasakan langsung oleh rakyat.
Pada jaman pemerintahan Gus Dur, landasan demokrasi adalah keadilan, dalam arti terbukanya peluang kepada semua orang, dan berarti juga otonomi atau kemandirian dari orang yang bersangkutan untuk mengatur hidupnya, sesuai dengan apa yang dia ingini. Jadi masalah keadilan menjadi penting, dalam arti dia mempunyai hak untuk menentukan sendiri jalan hidupnya, tetapi harus dihormati haknya dan harus diberi peluang dan kemudahan serta pertolongan untuk mencapai itu.
4.       Yang dimaksud kepemimpinan kolegial adalah Cara seorang pemimpin menerapkan pola kepemimpinannya berkaitan erat dengan visi dan misinya tentang kepemimpinan dan karakteristik lembaga dimana dia memimpin atau dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan kolegial adalah pemimpin yang mendelegasikan wewenangnya. Nabi SAW dan para sahabatnya diikat oleh pola kepemimpinan kolegial yang dilandasi oleh nilai – nilai egaliterisme yang tinggi. Pola kepemimpinan yang mengatur peran individu, dan tanggung jawab kelompok terhadap masyarakat. Inilah fungsi kepemimpinan yang diterapkan Rasulullah dengan pola kepemimpinan kolegialnya.
Cara seorang pemimpin menerapkan pola kepemimpinannya berkaitan erat dengan visi dan misinya tentang kepemimpinan dan karakteristik lembaga dimana dia memimpin. Pada era globalisasi dan otonomisasi, para pemimpin partai politik akan dapat menggerakkan semua potensi sumber daya manusia yang ada jika mereka mampu menerapkan kepemimpinan kolegial. Yaitu, dengan mengembangkan dan menyalurkan kebebasan berpikir dan mengeluarkan pendapat, serta mengembangkan kerja sama yang efektif, mengusahakan dan mendorong terjadinya pertemuan pendapat dan membantu menyelesaikan masalah – masalah, baik yang dihadapi secara perseorangan maupun kelompok. Mereka harus melihat partai politik yang mereka pimpin sebagai lembaga kolegal, yakni perwujudan sebuah “ideal collegiality”. Setiap orang yang ada di dalamnya diberi kebebasan mengeluarkan pendapat dalam proses pengambilan kebijakan dan keputusan – keputusan dibuat berdasarkan suara mayoritas, sehingga tidak ada suara kelompok orang yang lebih dominan dari suara kelompok orang yang lebih dominant dari suara kelompok lain dan tidak ada kebijakan – kebijakan yang lebih mementingkan anggota atau kelompok tertentu.
Kepemimpinan kolegal mendistribusikan kekuasaan dan tanggung jawabnya secara proporsional di semua lini dan hirarki, sehingga ada kreativitas di semua unit kerja organisasi. Seorang pemimpin yang hanya diberi tanggung jawab tanpa diberi kekuasaan akan frustasi dalam menjalankan tugas – tugas kepemimpinannya.
Contohnya : misalnya saja saya seorang pemimpin dan suatu saat saya memiliki tugas, maka saya akan membagi-bagikan tugas kebawahan saya, sehingga bawahan dapat bebas berfikir mengembangkan dan menyalurkan pikirannya serta bebas mengeluarkan pendapat, serta mengembangkan kerja sama yang efektif, mengusahakan dan mendorong terjadinya pertemuan pendapat dan membantu menyelesaikan masalah – masalah, baik yang dihadapi secara perseorangan maupun kelompok.
5.       Di jaman globalisasi ini tipe kepemimpinan yang paling baik digunakan ialah tipe kepemimpinan demokratis dimana demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Begitulah pemahaman yang paling sederhana tentang demokrasi, yang diketahui oleh hampir semua orang. Jadi keberadaan rakyat benar-benar diakui.Menjaga proses demokratisasi adalah memahami secara benar hak-hak yang kita miliki, menjaga hak-hak itu agar siapapun menghormatinya, melawan siapapun yang berusaha melanggar hak-hak itu. Demokrasi pada dasarnya adalah aturan orang dan di dalam sistem politik yang demokratis warga mempunyai hak, kesempatan dan suara yang sama di dalam mengatur pemerintahan di dunia publik. Sedang demokrasi adalah keputusan berdasarkan suara terbanyak. Di Indonesia, pergerakan nasional juga mencita-citakan pembentukan negara demokrasi yang berwatak anti-feodalisme dan anti-imperialisme, dengan tujuan membentuk masyarakat sosialis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar